Frequently Asked Questions (FAQs)


1. Apakah Masjid Indonesia Tokyo sama dengan Masjid Meguro?
A: Ya, Panitia Masjid Indonesia Tokyo adalah kelanjutan dari panitia Masjid Meguro. Perubahan nama sejalan dengan semangat panitia yang mengharapkan percepatan pembangunan masjid impian masyarakat Indonesia sejak 1999 lalu.

2. Mengapa masjid harus dibangun di daerah meguro? Mengapa tidak kita mencari lokasi lain yang lebih murah dan lebih banyak muslimnya?
A: Masjid Indonesia Tokyo adalah salah satu bentuk kontribusi nyata dakwah masyarakat muslim Indonesia di Tokyo terhadap pembangunan masjid. Masjid pertama yang akan didirikan oleh masyarakat muslim ini diharapkan agar dapat dibangun di wilayah yang terdapat konsentrasi masyarakat Indonesia paling banyak di Tokyo yaitu di Meguro, yang juga terdapat SRIT dan KBRI di wilayah ini. Kedepannya, semangat membangun masjid ini dapat dilanjutkan di tempat lain yang juga terdapat masyarakat muslim di sekitarnya.

3. Mengapa masjid dibangun di SRIT? Bukankah aula SRIT sudah bisa kita gunakan untuk berbagai aktifitas keislaman hingga hari ini?
A: Tentu yang diharapkan panitia adalah dibangunnya Masjid yang didalamnya dilakukan panggilan shalat sehari-hari, tempat untuk sujud, serta dibangun dengan tujuan khusus untuk tempat beribadah. Definisi masjid dari para ulama secara urf ini, yang membedakan antara masjid yang dikhususkan pembangunannya untuk tempat ibadah dengan aula SRIT yang serbaguna fungsinya, sehingga kita harapkan keutamaan-keutamaan dari pembangunan dan memakmurkan masjid bisa termasuk didalamnya.
Selain itu, dalam studi kelayakan pembangunan masjid yang telah dilakukan panitia sejak sekitar tahun 2009, beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan lokasi pembangunan masjid adalah jaminan ketersediaan (availability) jamaah yang mengisi 5 waktu sehari, keamanan akses masyarakat Indonesia di sekitar meguro untuk menuju masjid sehari-hari, kemudahan untuk penyelenggaraan kegiatan massal seperti shalat ied dan tablig akbar, serta kecilnya rasio biaya dibandingkan manfaat (cost to benefit ratio). Dengan berbagai pertimbangan tersebut maka SRIT adalah lokasi yang paling memungkinkan (feasible) untuk dibangun masjid Indonesia pertama ini.

4. Ketika masjid sudah jadi, bagaimana pengelolaannya nanti? Siapakah pemilik masjidnya?
A: Masjid dibangun oleh KMII dengan sumber dana dari ummat, kemudian setelah selesai dibangun, maka Masjid akan diserahkan kepada pemerintah Indonesia di bawah Kemenlu sebagai aset negara. Pengelolaan sendiri akan dilakukan oleh KMII bekerjasama dengan KBRI.

5. Apakah nama masjidnya harus Masjid Indonesia Tokyo?
A: Tidak. Masjid Indonesia Tokyo adalah nama proyek pembangunan masjidnya. Adapun untuk nama Masjid bisa berbeda dan tentunya panitia menerima masukan dari masyarakat Indonesia semua yang di Jepang.

6. Apakah boleh wakaf berupa uang tunai? Bukankah wakaf itu benda fisik? Bagaimana dalilnya?
A: Insya Allah boleh. Hal ini merujuk kepada Fatwa MUI tentang wakaf uang yang ditetapkan di Jakarta, 28 Shafar 1423H (11 Mei 2002) terkait hukum kebolehan (Jawaz) wakaf berupa uang tunai. Selain itu juga pelaku wakaf di Indonesia telah disahkan oleh undang-undang yaitu UU No 41 tahun 2004 pasal 15 dan 16 tentang harta benda wakaf, salah satunya adalah berbentuk uang.

7. Apakah wakaf harus minimal atau kelipatan ¥125.000? bukankah berinfaq (dengan besaran bebas) untuk pembangunan masjid sudah termasuk pahala jariyah?
A: Salah satu rukun wakaf adalah mauquf yaitu harta yang diwakafkan. Untuk kemudahan dan kepantasan nilai wakaf, maka panitia dan KMII telah menyepakati besaran minimal wakaf yaitu ¥125.000 atau kelipatannya. Besaran ini senilai dengan bangunan masjid seluas tempat shalat untuk satu orang. Adapun apabila kita berinfaq dengan besaran yang berbeda, maka panitia tetap menerima harta tersebut sebagai infaq untuk pembangunan masjid.

8. Apakah boleh bayar zakat mal untuk infaq/wakaf pembangunan masjid?
A: Zakat adalah salah satu rukun islam, yang hakikatnya adalah pilar dari keislaman seseorang serta pelaksanaannya harus mengacu pada aturan yang benar. Mayoritas ulama sepakat bahwa pembangunan masjid tidak termasuk dalam asnaf fisabilillah karena asnaf ini lebih spesifik kepada orang yang berjihad, serta sebaiknya tidak terlalu meng-umum-kan kriteria ini karena bisa jadi seluruh kegiatan dakwah masuk ke dalam pengertian ini, walaupun ada beberapa ulama yang membolehkan zakat untuk pembangunan masjid dimana masjid tersebut memang sangat dibutuhkan keberadaannya.
Oleh karena itu, panitia dan KMII mengambil pendapat jumhur ulama yaitu tidak merekomendasikan masyarakat muslim berzakat untuk pembangunan masjid. Adapun bagi masyarakat muslim yang meyakini pendapat bahwa boleh menyalurkan zakat pribadi untuk pembangunan masjid, maka panitia dan KMII tidak akan melarang serta bersedia menampung harta tersebut untuk pembangunan masjid.

9. Saya ingin berwakaf, bagaimana mekanismenya?
A: Mekanisme wakaf secara lengkap dapat dilihat pada website masjid berikut: http://www.masjid-indonesia.jp/program-wakaf/#cara

10. Bagaimana mekanisme pemilihan ESPAD dan EIKOU sebagai desainer dan kontraktor?
A: Panitia telah melakukan penawaran terbuka (open tender) kepada 7 perusahaan desainer di wilayah Tokyo yang kemudian 3 perusahaan memberikan balik harga kutipan (quotation) atas ketertarikannya untuk menjalankan proyek ini. Dari ketiga perusahaan tersebut dipilihlah ESPAD sebagai desainer lokal masjid yang penentuan desainnya turut melibatkan panitia serta dosen arsitektur dari ITB. Setelah desainer selesai membuat rancangan arsitektur secara lebih detail, maka dilakukan penawaran terbuka kepada 13 perusahaan kontraktor di wilayah Tokyo dan sekitarnya yang kemudian 4 perusahaan memberikan balik harga kutipan kepada panitia. Dari keempat perusahaan tersebut dipilihlah EIKOU sebagai kontraktor pembangunan masjid.

11. Kapan masjid mulai/selesai dibangun? Kayaknya dari dulu minta uang terus tapi gak mulai mulai?
A: Setelah menjalani proses panjang pengumpulan dana, studi kelayakan lokasi, pengembangan rancangan dasar arsitektural masjid berdasarkan aturan pembangunan pemerintah Tokyo, pengurusan perizinan pembangunan masjid ke Kemenlu dan pemerintah Meguro, pemilihan desainer lokal Tokyo, pembuatan rancanan final masjid, serta pelelangan dan pemilihan kontraktor, maka masjid mulai dibangun pada 6 Juni 2016 lalu, atau bertepatan dengan 1 Ramadhan 1437H. Insya Allah masjid akan selesai dibangun pada April 2017. Sampai kebutuhan dana tercukupi pada batas akhir pelunasan masjid tersebut, panitia akan tetap terus menghimpun dana supaya pembangunan dapat berjalan dengan lancar.